SINTAKSIS JARAK - Chapter 0: Partial Filled
Dalam pengujian sebuah sistem transaksi yang kompleks, ada sebuah status pesanan yang dikenal dengan istilah Partial Filled. Sebuah kondisi di mana eksekusi telah terjadi, mungkin hanya satu lot, tidak sepenuhnya batal, tetapi juga tidak pernah benar-benar selesai dan utuh.
Bagi Iwan, hari di mana ayahnya dimakamkan adalah hari di mana hidupnya terjebak dalam status tersebut. Berjalan, bernapas, tetapi tidak pernah lagi utuh.
Ia masih mengingat dengan jelas aroma tanah basah dan bisingnya suara pelayat di ruang tamu rumahnya yang sempit. Namun, yang paling mencekik bukanlah tangisan ibunya yang bersimpuh di sudut ruangan, melainkan ketidakmampuannya sendiri untuk mengeluarkan air mata. Saat itu, Iwan hanya berdiri mematung, merasakan kekosongan yang dingin perlahan merayap naik dari ujung kakinya, menelan seluruh sisa kehangatan di dadanya.
Kekosongan itu kemudian bermutasi menjadi amarah yang tak berwajah. Amarah pada kemiskinan yang membuat pengobatan ayahnya tertunda. Amarah pada ibunya yang malam itu berteriak histeris, menyalahkan keadaan. Dan yang paling parah, amarah pada dirinya sendiri karena ia hanya bisa diam.
Tiga bulan setelah hari itu, Iwan memutuskan untuk pergi. Ia mengemas pakaian secukupnya, memasukkan sebuah laptop bekas ke dalam ransel, dan melangkah keluar dari pintu rumahnya tanpa berani menatap mata ibunya yang memerah.
“Kamu beneran mau pergi jauh, Wan? Ibu sama adik gimana?”
Pertanyaan ibunya di ambang pintu kala itu tidak pernah ia jawab. Iwan hanya mempercepat langkahnya menuju terminal bus. Ia butuh jarak. Ia butuh kota lain yang tidak menyimpan memori tentang ayahnya. Ia butuh pelarian.
Di kursi bus malam yang membawanya membelah jalanan antarprovinsi, Iwan menyumpal telinganya dengan earphone. Ia menyetel equalizer di ponselnya, menaikkan frekuensi tinggi untuk mencari karakter suara instrumen dan vokal yang paling bright dan tajam. Ia memutar musik keras-keras, membiarkan lengkingan gitar akustik dan kejernihan suara penyanyi menusuk gendang telinganya, menenggelamkan deru mesin bus dan rasa bersalah yang mulai menggerogoti ulu hatinya.
Iwan mengira, dengan menjauh dari rumah, ia bisa mereset ulang hidupnya layaknya sebuah program yang dihidupkan kembali setelah mengalami crash. Ia berpikir jarak akan menghapus error di kepalanya.
Ia salah.
Jarak tidak pernah menyembuhkan apa-apa. Jarak hanya membekukan waktu, mengubah rasa ingin kabur itu menjadi kekhawatiran yang bisu, dan membiarkan status hidupnya menggantung selamanya sebagai pesanan yang tak kunjung usai.

test
BalasHapus