SINTAKSIS JARAK
Di balik pintu kamar kosnya yang selalu tertutup, Iwan membangun sebuah dinding yang tak kasatmata. Sebagai mahasiswa informatika tingkat akhir, hari-harinya berlalu dalam senyap, hanya diterangi pendar pucat layar laptop yang perlahan meredupkan realita. Ia lebih memilih menghabiskan malam mencari-cari kesalahan pada baris kode aplikasinya, ketimbang harus berhadapan dengan hal-hal yang terlanjur rusak di kehidupan nyatanya. Sesekali, ia menyematkan earphone, memutar lagu dan mencari kejernihan suara vokal yang paling tajam, sekadar untuk menenggelamkan sunyi yang menyiksa di dalam kepalanya.
Kesunyian itu bermula sejak ayahnya tiada. Duka yang tak pernah benar-benar diselesaikan itu menyisakan amarah, ego, dan jarak yang ia bentangkan sendiri antara dirinya dan sang ibu. Dulu, ia memilih merantau ke kota lain hanya untuk melarikan diri. Namun perlahan, seiring berjalannya waktu, jarak ribuan kilometer itu justru menjelma menjadi kecemasan yang menggerogoti hatinya.
Ia tak pernah punya keberanian untuk sekadar mengirim pesan atau menyapa ibunya lebih dulu. Rasa bersalahnya terlalu besar, menjerat lidahnya dalam kecanggungan yang teramat panjang. Namun, di balik sikap acuhnya, ada satu ketakutan mendasar yang selalu mengintainya. Setiap kali layar ponselnya berkedip menampilkan nama "Ibu", ia akan mematikan musiknya dan mengangkatnya pada dering pertama. Percakapan mereka selalu kaku, dingin, dan singkat. Tetapi di sela-sela jeda napas ibunya dari seberang sana, ia selalu mencari-cari tanda—dihantui teror bahwa suatu hari nanti, panggilan telepon itu tidak akan pernah berbunyi lagi.
Di ambang ketidakpastian masa depan dan beban keluarga yang diam-diam menyesakkan dadanya, ia dipaksa untuk menyadari satu hal: waktu terus berjalan, dan tidak semua penyesalan bisa diperbaiki hanya dengan diam menunggu.

Komentar
Posting Komentar