SINTAKSIS JARAK - Chapter 1: Dering Pertama

min read
Jarum jam di sudut kanan bawah monitor menunjukkan pukul 02:15 pagi. Di luar, hujan gerimis mengguyur atap seng kamar kos Iwan, menciptakan ritme monoton yang perlahan menelan kesunyian malam. Iwan menghela napas panjang, mengusap matanya yang mulai terasa perih di balik bingkai kacamata. Di layar monitornya, antarmuka Unity menampilkan deretan pesan error berwarna merah yang seolah menertawakan usahanya. Proyek tugas akhirnya—sebuah aplikasi edukasi anatomi medis berbasis Augmented Reality (AR) bernama MedicaLens—kembali mogok. Model anatomi jantung tiga dimensi yang seharusnya berdetak secara real-time dan merespons interaksi sentuhan justru mengalami clipping, berulang kali menembus struktur tulang rusuk virtual dan merusak simulasi sistem peredarannya. Kesalahan logika. Selalu ada kesalahan logika yang entah bersembunyi di baris ke berapa. Rasa frustrasi mulai menjalar, membuat otot-otot di lehernya menegang. Untuk meredam isi kepalanya yang mulai berisik, Iwan meraih sepasang In-Ear Monitor (IEM) berbahan metal dingin yang tergeletak di samping keyboard. Ia memasangnya perlahan, memastikan isolasi suaranya kedap, lalu membuka aplikasi pemutar musik. Jari-jarinya dengan telaten menyesuaikan equalizer, menaikkan frekuensi treble untuk mencari setelan yang paling pas. Ia membutuhkan kejernihan. Ia butuh suara vokal yang bright dan dentingan instrumen akustik yang tajam—suara beresolusi tinggi yang cukup jernih untuk menembus tengkoraknya dan membersihkan sisa-sisa kepenatan. Begitu alunan musik itu mengalun sempurna dan memblokir suara hujan, Iwan menyandarkan punggungnya ke kursi. Bahunya yang kaku perlahan mengendur. Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter ini, dengan musik yang mengisolasi dunianya, ia memegang kendali penuh. Tidak ada variabel acak yang bisa melukainya. Namun, ilusi kendali itu hancur seketika saat musik di telinganya mendadak terputus. Layar ponselnya yang tergeletak di atas meja menyala terang, mengusir bayangan gelap di sudut kamar. Satu kata muncul di layar, berkedip seiring getaran pelan di atas meja kayu: Ibu. Jantung Iwan seakan berhenti berdetak selama sekian milidetik. Sebuah refleks traumatis yang tertanam kuat sejak malam kelam beberapa tahun lalu—malam di mana sebuah panggilan telepon menghancurkan dunianya dan menjadikannya sebuah error yang tak pernah bisa ia perbaiki. Tanpa berpikir panjang, bahkan sebelum nada dering pertama itu benar-benar selesai berbunyi, tangan Iwan sudah menyambar ponselnya. Ia mengusap tombol hijau di layar. Telapak tangannya terasa dingin. Ia menelan ludah, berdeham pelan untuk membersihkan serak di tenggorokannya agar terdengar normal. "Halo, Bu." "Wan? Belum tidur kamu, Le?" Suara di seberang sana terdengar sedikit parau, berbaur dengan kresek statis dari sinyal yang tidak stabil. "Lagi ngerjain tugas, Bu. Sedikit lagi," jawab Iwan datar. Matanya menatap kosong ke arah deretan kode di layar monitor, sementara telinganya bekerja ekstra keras. Ia berusaha mendeteksi setiap embusan napas ibunya. Apakah Ibu terdengar lelah? Kenapa suaranya serak? Apa asmanya kambuh karena hujan? "Oh... Jangan begadang terus. Nanti sakit. Uang bulan ini masih cukup buat makan?" "Masih, Bu. Cukup." Singkat. Terlalu singkat. Iwan membenci dirinya sendiri karena suaranya selalu terdengar sedingin mesin setiap kali berbicara dengan ibunya. Ada ribuan kalimat yang tersangkut di tenggorokannya. Ia ingin bertanya apakah atap dapur yang bocor sudah diperbaiki, apakah ibunya sudah minum obat malam ini. Namun, benteng ego dan rasa bersalah yang ia bangun selama bertahun-tahun mencekik pita suaranya terlalu erat. "Ya sudah. Ibu cuma mau mastiin. Tadi adikmu bilang, kamu nggak balas pesannya dari sore." Iwan meringis pelan, mengusap tengkuknya. "Lupa cek HP, Bu. Terlalu fokus coding." "Iya... Ya sudah, dilanjut belajarnya. Jangan lupa dikunci pintunya." "Iya, Bu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Panggilan berakhir di detik ke-42. Iwan meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dengan sangat hati-hati, seolah benda persegi itu terbuat dari kaca tipis yang bisa pecah kapan saja. Kamarnya kembali senyap, suara hujan kembali terdengar, tetapi dadanya bergemuruh hebat. Ia membuka aplikasi WhatsApp, mencari nama adiknya di daftar obrolan teratas. Jari-jarinya mengetik dengan cepat, melampiaskan kekhawatiran yang tak berani ia suarakan pada ibunya. Iwan: Dek, Ibu sakit? Kok suaranya serak tadi pas nelepon? Iwan: Uang yang Mas transfer kemarin dipakai buat beli vitamin Ibu, ya. Jangan buat jajan semua. Kalau kurang, bilang. Iwan menatap dua tanda centang abu-abu di layar pesannya. Adiknya pasti sudah tidur. Ia meletakkan kembali ponselnya dan membuang napas panjang. Matanya kembali menatap model anatomi tiga dimensi di monitornya yang masih terdistorsi oleh error. Memperbaiki logika sistem ternyata jauh lebih mudah daripada memperbaiki jarak yang telanjur ia bentangkan dengan keluarganya sendiri. Iwan kembali memasang earphone-nya rapat-rapat, membiarkan alunan instrumen yang bright menelan sisa malam, menunggui pagi yang selalu datang terlalu cepat.

Komentar